Jumat, 11 Februari 2011

Bertualang Sambil Belajar


     Satu lagi kisah masa kecil yang tak pernah terlupakan oleh masa, dimana persahabatan akan baru terasa setelah jarak dan waktu memisahkan. Dulu menjadi hal yang biasa saja namun sekarang menjadi cerita yang sangat menarik untuk diingat kembali. Saya, Tri, Sofik, Ari, Agus, Antono, Toto, Nono, Selamet, Wawan, Dodik, Kuwat,Punto,  dan Eko adalah siswa laki-laki yang telah bersama-sama menjadi sahabat seiring 6 tahun bersama mengenyam pendidikan di SD 1 Colo. Sedangkan siswa perempuan Ema, Ela, Upik, Alfi, Dita, Ika, Zun, dan Susi.

     Kesempatan kali ini Aku akan mencoba mengurai kembali kisah yang sudah lama sekali tergeser oleh waktu. Satu dari sekian banyak cerita, ada hal yang lebih menarik tentang rasa persahabatan. Hemmm...sebentar, aku tersenyum dulu. Hal yang sudah langka. Mungkin sudah tidak terjadi lagi di masa sekarang ini. Belajar kelompok. Dulu belajar kelompok sudah menjadi tren anak sekolah  SD. Kami melibatkan semua teman sekelas untuk melakukan aktifitas rutin ini. Sementara komunitas perempuan membentuk kelompok sendiri walaupun terkadang ikut gabung juga jadi satu. Biasanya kami  membahas pelajaran yang telah berlalu, mengerjakan PR bersama, mencoba mempelajari pelajaran yang belum diajarkan, tentu saja dengan selingan aktifitas kami sebagai seorang anak-anak. Yaitu bermain. Inilah yang membuat kisah ini begitu terkenang hingga sekarang. Cara kami belajar pun berbeda dengan kakak-kakak kelas kami ataupu adik kelas. Sepertinya Cuma kami saja yang menggunakan metode belajar kelompok sambil bermain. Kami biasanya memilih tempat belajar yang suasananya nyaman dan santai. Belajar kelompok di sekolah atau home to home dari rumah teman satu ke rumah teman yang lain sudah tidak tren lagi. Justru kami memilih suasana yang lebih natural. Kalau sekarang sich pakai istilah out-bond. Ya, lokasi semisal Taman Ria, Belakang Sanggeran (sekarang Hotel Graha Muria), Villa milik juragan rokok Djarum, Villa milik bos rokok Sukun, Villa milik Paman Lim Swie King, Villa Mulyatex punya, Villa Obor, (waaah....semua lokasinya bergengsi yach..) Yah, kita anggap rumah sendiri. Ada pohon apel yang berbuah ambil aj, ad jambu besar-besar ya di embat aja kan sudah kami anggap rumah sendiri. Tapi kalau waktunya ngepel lantai, bersihin halaman, tentu saja ogah lah. Terserah kita dong kan yang punya rumah sendiri. Bahkan masuk rumah dengan melompat pagar pun terserah kami. Pun, begitu kami tetap serius belajar kok meski terkadang juga hanya nenteng buku saja sebagai teman kantong celana.

     Paling berkesan pas di Villa Mulyatex punya. Kebetulan yang mengurus kompleks Mulyatex adalah kakek dari salah satu teman kami yaitu Ari. Pun begitu, kami merasa tidak bebas keluar masuk area tersebut. Kami harus menaiki sebuah lereng kecil yang banyak ditumbuhi rumput. Sekarang lereng itu juga masih ada kok, tepatnya di depan Masjid Utama Assa’idiyah Colo memanjang sampai pintu gerbang masuk villa. Di atas lereng itu, juga telah dipasang kawat berduri yang memanjang menutupi area yang berarti tidak boleh sembarang orang memasukinya. Kecuali orang-orang yang gila yang mau memaksa memasukinya. Dan kami pun melakukannya dengan cara menyusup bagian terbawah dengan cara menarik keatas agar ada celah yang bisa kami masuki. Jika dulu di lokasi penyusupan itu di pasang kamera CCTV, sudah pasti wajah kamilah yang selalu muncul. Jika sudah berada di dalam, kami masih harus mengendap-endap sambil mengawasi kondisi sekitar kami, bahkan jauh dari tempat kami. Kami masih harus menghindari sesuatu. Bukan lampu mercusuar, apalagi kamera CCTV. Bahkan kami malah belum mengenal mereka saat itu. Apa yang kami takuti saat itu? Penjaga villa itu, Embahnya Ari (mau pake kakeknya Ari, kurang enak bahasane) yang bernama Mbah Min. Sekali kecolongan kita sedang di situ merusak tanaman meski tidak sengaja, aksi kejar-kejaran pun tak terelakkan. Di situlah saat-saat yang memicu kamiuntuk  harus memacu adrenalin. Kami takutnya bukan kepalang melihat sepucuk bandol yang melayang di atas mbah Min dengan tangan kanannya. Kami tahu itu hanya untuk menakut-nakuti saja. Tapi dulu hal itu kami anggap hal yang serius. Walaupun terkadang mbah Min mendadak baik. Itu karena kita tengah asyik belajar kelompok. Bukan merusak tanaman.

     Kejadian yang hampir sama pun berlaku ketika kita berkunjung ke villa langganan kami yaitu villanya jurakan rokok Djarum. Lagi-lagi kami harus bermasalh dengan si penjaga gara-gara masuk menyelinap dari kebun yang jauh dari viila utama. Sama seperti di Mulyatex, kami juga harus menyusupi lintasan kawat berduri dan setelah berhasil masuk langsung disuguhi buah apel hijau yang masih ranum. Beraneka wahana permainan pun siap menghibur jiwa kami yang masih anak-anak. Jontitan, meja putar, ayunan, bahkan lingkaran setan juga ada. Serunya di viila juragan Rokok Djarum ini juga ada sedikit nuansa mistis yaitu sebuah kolam yang dipercaya ada ular besar yang menghuninya. Lengkap kan pacuan adrenalin kami.
Di lokasi lain seperti villa obor, kami bisa seenaknya memakai kolam renang, di villa milik paman Lim Swie King kita bebas melompat pagar sebagai akses keluar masuk dan bersantai di teras belakang villa. Seperti rumah sendirilah.

     Ada satu kejadian yang turut menjadi alur cerita masa itu. Pepekan bocah. Dulu juga pernah booming istilah itu. Dimana ada seorang yang tak dikenal sedang mencari mangsa. Mangsanya pun tak sembarangan karena melibatkan anak-anak. Mereka menculik anak-anak dan entah akan di bawa kemana dan untuk apa. Untuk tumbal adalah salah satu praduga sebagai motif penculikan anak-anak itu. Kalau sekarang motifnya sudah semakin banyak. Mulai dari perdagangan anak, perdagangan organ manusia, unsur dendam, dan tumbal pun masih masuk nominasi.
Kami pun pernah menghadapi suasana mencekam seperti itu. Tepatnya pas kami dalam perjalanan pulang dari villa Liem Swie King. Kami harus melewati kawasan taman Ria dan kami bertemu dengan kakek-kakek yang misterius. Kebetulan Aku, Tri, dan Sofik yang terlibat dengan percakapan dengan orang asing itu. Sosok itu sudah tua memakai baju putih yang sudah berubah kuning langsat, memakai celana pendek. Di punggungnya menggantung karung plastik yang terasa berat di pegangan tangannya yang bertumpu di pundaknya. Awalnya kami memang sudah curiga dengan sosok tua yang menakutkan itu. Kami mencoba m,enghindarinya namun tetapa saja kami harus berpapasan dengan orang asing itu. Tiba-tiba orang itu menawari kami makanan yaitu “arem-arem” sejenis makanan yang masuk keluarga nasi tapi dibungkus dengan daun pisang dan dalamnya biasa diisi dengan kering tempe, tahu, kadang ada petenya. Kalau dikit maliter sich biasa dikasih suwiran-suwiran daging ayam. (kok jadi curhat nich, kalo aku udah laper banget ni perut). Sebelum cerita tak akhiri biar aku akhiri dulu ceritanya. (????). Spontan kami langsung lari tunggang langgang menjauh dari orang itu. Lagian mana ada orang yang mau bagi-bagi arem-arem atau miungkin jualan tapi nenteng-nenteng kantong besar yang kumut-kumut gitu. Kalo emang bener, siapa juga yang mau beli. Kalo nggak ya palingan isinya potongan-potongan kepala manusia. Hiiii..... (bahasane wes mule ngelantur nich, mungkin saking laper kali yua...) hahaha...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Friends